Cerpen / SEPARUH JIWA YANG HILANG

            Pagi itu sebelum bel berbunyi aku melamun di depan kelas, saat itu pikiran ku melayang jauh pada kejadian yang telah lalu tepatnya 1 tahun silam dimana Aku kehilangan sahabat yang sangat aku sayangi namanya Astrid.Aku hampir tidak percaya bahwa hal itu bisa terjadi, namun ini nyata, ini ada dan sekarang untungnya aku sudah mengikhlaskannya.  Astrid adalah anak dari  pamanku sendiri. Kami selalu melakukan hal dengan bersama-sama, aku dan Astrid sudah seperti bumi dan udara yang tidak bias dipisahkan, hingga pada akhirnya tepat ketika kami duduk dikelas XI SMA terjadi sesuatu yang sangat memilukan dan sampai saat ini tidak  bisa aku lupakan yaitu Astrid meninggalkan aku untuk selamanya.

            Mulanya, sekolahku menjadi salasatu peserta melukis yang di adakan oleh pemerintah pusat Kota Bandung waktu itu, Aku dan Astrid ditunjuk sebagai perwakilan sekolah. Kebetulan kami juga sangat menyukai seni terutama seni rupa.

            Besoknya, kami berangkat menggunakan dua kendaraan yang berbeda, namun naasnya motor yang ditumpangi Astrid mendapat musibah kecelakaan, Astrid tergeletak berlumuran darah dan hampir tidak sadarkan diri, melihat kejadian itu aku langsung turun dari motorku dan berusaha lari sekuat tenaga untuk menolong Astrid, Aku pangku dia aku menangis sejadi-jadinya, dengan terbata-bata aku mendengar Astrid berkata kepadaku “ Pergilah Mita, jadilah juara untukku, untuk sahabatmu! Aku yakin kamu pasti bias aku yakin Mita!” Maka dengan berlinang air mata aku terpaksa meninggalkan Astrid dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

            Diperjalanan aku terus menangis aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Astrid setelah mendapatkan musibah tersebut. Namun Pak Yanto yang saat itu bersamaku berusaha menenangkan aku dia meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

            Aku tiba diruang perlombaan yaitu disebuah GOR yang berada didekat kantor Wali Kota. Suasana disana sangat ramai aku berbicara dalam hati “andai saja Astrid ada disini, pasti dia akan ikut merasakan suka cita disini.” Tak lama kemudian perlombaan pun dimulai aku memilih tema tentang “SAHABAT” dalam lukisan itu meskipun dalam keadaan yang carut marut aku berusaha membuat lukisan yang indah, setiap goresan kuas aku gariskan dengan sangat detail. Meskipun dalam hati aku masih terus memikirkan Astrid.

            Dari awal sampai akhir perlombaan pikiranku tidak henti-hentinya memikirkan sahabat yang sangat aku sayangi. ”Bagaimana keadaan dia sekarang? Ahhhhh entahlah rasanyaaa aku ingin segera pergi dan bergegas menuju rumah sakit tempat Astrid dibawa tadi” pikirku.

            Hingga tiba saatnya akhir acara, aku tidak menyangka kalau aku berhasil menjadi seorang pemenang. Saat itu, aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih yang terpenting sekarang adalah keselamatan Astrid.

            Singkat cerita aku sudah sampai di Rumah sakit dengan membawa piala dan medali, aku mendapatkan info bahwa Astrid berada di Ruang ICU. Mendengar kabar itu, pikiranku semakin kacau aku lari secepat mungkin agar tidak banyak waktu yang aku buang.

            Sampai di Lorong luar ICU aku mempercepat langkahku, Pak Yanto aku tinggal dibelakang karena tadi dia memarkirkan kendaraannya terlebih dahulu. Di depan ruang ICU aku dapati ayah, ibu dan 2 orang guru Astrid sedang menangis. Hatiku bertanya “Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Astrid? Mana Astrid? Dia baik-baik saja kan?.” Namun semua diam aku semakin bingung dengan keadaan ini. Aku berusaha masuk ke ruang ICU namun Pak Andi mencegahku dan berusaha menenangkanku. Saat itu, semua mendadak seperti menjadi orang bisu tidak ada yang berkata-kata sepatah kata pun. Pak Andi mengelus rambutku dan dengan perlahan dia mengatakan kepadaku sesuatu yang sangat memukul hatiku “Mita sayang, kamu yang kuat yaa, yang sabar dokter tidak bisa menolong Astrid, dia sudah kembali kepada pangkuan Tuhan” “Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!” aku kaget. Mendengar pernyataan itu seketika aku lemas tak berdaya seakan-akan tubuhku melayang tidak mempunyai pijakan untuk berdiri. Sambil memeluk piala aku masih sempat berkata dengan nada putus-putus “Astrid a….a….aku menang i….i…ini piala ku, pi…pi…piala kamu juga, piala kita Astrid!! Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan, kembalikan Astrid” kataku sambil tak henti-hentinya menangis. Namun semua itu adalah takdir yang harus aku terima dengan ikhlas. Aku harus sadar bahwa semua yang dimiliki oleh-NYA adalah titipan. Aku berdo’a “Ya Allah jika ini memang takdirku aku ikhlas terimalah Astrid disisi-MU aminnn…..”

            “Teeng teeeeng…..!! Suara itu seketika menyadarkan aku dari lamunan suram satu tahun lalu aku masuk kelas dan belajar seperti biasa

Share:
RESA ANDRIANI

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH