Cerpen / SELAMAT JALAN SAHABAT

Aku Enjang Abdul Jabar. Kalau mereka suka memanggilku “abang”. Karena aku anak cikal yang dilahirkan dari keluarga yang tinggal disuatu desa yang kecil pula. Anak pertama kelahiran 1997 ini bernapas dengan paru-paru, sama seperti seekor paus. Itulah Ceritaku, jangan banyak-banyak biar cerita ini tidak melenceng dari biografi.

To the point.

Aku termenung di kobong saat pulang mengaji. Rian pun memanggilku dan berkata, “Kenapa Bang? Ko cemberut saja?” tanya Rian. 

Dengan berat aku pun menjawab, “abang mau pindah Ian, Bapak saya menyuruh pindah ke pesantren paman saya itu yang di Jawa Tengah”. Jawabku dengan  sedih. 

Rian pun terkejut dengan apa yang aku ucapkan dan merasa tidak percaya. Ia berkata, “iih !! Kenapa Bang ?? menyayangkan sekali....” 

Aku pun menjawab dengan tegar, “ Abang juga berfikir seperti itu, tetapi ini sudah menjadi keputusan bapak saya”. 

Saat ku tatap muka Rian, terlihat kesedihan yang mendalam, di raut wajahnya seakan benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Karena Rian  memang sahabat sekaligus adik kelas yang paling dekat denganku, dan sekarang kami akan berpisah.

Hari itu adalah hari ketika aku akan dijemput oleh ayah, aku sedih karena harus berpisah dengan Rian, Rian pun mengucapkan kata-kata perpisahan dan aku memberinya kunci lemari, karena aku berniat kembali untuk mengambil pakaian yang tersisa makanya kutitipkan kunci itu kepada Rian.

Ayah pun datang, dan aku langsung menghampirinya sambil menggendong tas yang biasa ku pakai. Setelah dari kantor untuk izin sekaligus pamit, aku langsung naik motor dan langsung meluncur ke Ciamis ke desa kecil tercinta.

Sedari dulu memang aku ingin keluar dari pondok pesantren, dengan alasan tidak betah. Namun aku selalu mengurungkan keinginanku itu, karena yang ku cari bukanlah betah, tapi karena aku butuh dengan ilmu-ilmu agama Allah.

Akhirnya tiba pada hari yang aku inginkan selama ini, yaitu keluar dari pondok pesantren. Namun nyatanya apa ? belum satu hari pun aku meninggalkan ma’had tercinta, aku merasakan rindu yang begitu memuncak karena memang terlalu manis untuk ditinggalkan. 

Seminggu kemudian, aku kembali ke pesantren untuk mengambil pakaian yang masih tersisa yang sebenarnya sengaja aku tinggalkan, agar aku bisa bertemu sahabat-sahabatku untuk terakhir kalinya. Saat aku memasuki kobong, aku kaget, senang, sekaligus sedih, karena sahabat-sahabat baikku sedang berkumpul bersama sambil ngobrol-ngobrol di kobongku. Aku menyapa mereka, “Assalamualaikum... sedang membicarakan apa kalian ? “. Namun apa yang terjadi, jangankan mereka menjawab salam atau pertanyaanku, melirik pun tidak !!

Disaat itulah aku merasa sedih dan terpukul, aku hanya terdiam sendiri sambil menundukkan kepalaku, terasa tubuh ini sedang di guyur hujan yang sangat deras dengan sambaran petir di mana-mana, dalam hati aku berbisik, “ Ya Allah mungkin ini adalah balasan bagiku dan mungkin ini juga yang mereka rasakan saat aku tinggalkan pergi, karena aku belum berpamitan pada mereka”.

Dengan berat hati aku membalikkan badan dan menjauh dari meraka. Saat aku akan melangkahkan kakiku meninggalkan kobong, seseorang berteriak “baaaang”. Aku menghentikan langkahku dan menengok, ternyata Asep yang memanggilku, dia menghampiriku yang disusul dengan Rian, Nurdin dan Hafidz, mereka adalah sahabat terbaikku yang ku maksud.

“Bang kenapa pindah?” kata Hafidz. “Tidak memberi tahu saya dulu, langsung pergi begitu saja”. Aku benar-benar kaku dan tak bisa menjawab apa-apa.

Asep tiba-tiba memelukku, dan kulihat matanya berkaca-kaca, tak ku sangka ternyata orang seceria asep bisa sampai meneteskan air mata. Mungkin senyuman wanita lebih ikhlas daripada senyuman laki-laki, tapi air mata laki-laki kukira lebih jujur daripada air mata wanita. Aku tak kuasa menahan semua ini, tapi aku coba tahan, karena aku bertekad bahwa permata ini tak akan ku jatuhkan begitu saja bukan pada waktunya, mungkin dosalah yang mampu menjatuhkan permata bening  ini.

Aku mencoba meneguhkan hatiku dan berkata, “Maafkan saya”. Dan Sssstt ssstt sssstt”, tiba-tiba Nurdin memotong pembicaraanku. Ia berkata “Tidak perlu dilanjutkan , kita juga sudah mengerti, lebih baik sekarang kita ngopi-ngopi sambil kumpul-kumpul untuk yang terakhir kalinya sebelum kamu berangkat”. “Benar itu !! Di traktir dong sama yang mau berpisah”. Kata Asep sambil mendorong bahuku. Mereka tertawa. Inilah yang ku suka dari mereka, mereka selalu saling mengerti antar satu dengan yang lainnya.

Kami bercanda, ngobrol, dan nyanyi bersama dibelakang kobong, karena di belakang kobong cukup teduh juga hijaunya pemandangan hamparan pesawahan dapat menenangkan mata dan pikiranku. Rian berkata, “Bang nyanyi dong ! dari tadi diam saja”. “Ooh siap,, mau lagu apa? Arab, Sunda, Inggris, Dangdut, Pop ?.. haha” aku menjawab sambil tertawa. “Terserahlah” Tutur Rian. Aku menjawab kembali, “okelah lagu Slank saja yang lagunya diubah tapi judulnya lupa lagi...haha”. Semua tertawa. Aku pun menarik napas dan mulai bernyanyi.

pernah berpikir tuk pergi

Yang terlintas tinggalkan ma’had ini

Sempat ingin sudahi sampai disini

Coba lari dari kenyataan

Tapi

Ku tak bisa..jauh..jauh..daarimu

Ku tak bisa..jauh..jauh..daarimu

Ohh ma’had ku...”

Aku pun pamit untuk pulang, “Kalian bisa bahagia tanpa aku, tapi bahagiaku bersama kalian”. Kataku penuh haru. “Alaaah so bijak kamu”. Tutur asep, sambil berjabatan tangan dan yang lainnya mengikuti berjabatan tangan. Aku bergegas naik motor untuk pulang karena waktu sudah hampir mau sore.

Pada saat itu aku sudah mondok di Jawa Tengah di pondok pesantren Syamsul Huda milik paman, meskipun kecil kalau dibandingkan dengan pondok pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya. Tapi di sini bersih dan nyaman.

Suatu hari aku teringat sahabat-sahabatku yang jauh di sana, terutama Rian. Aku pun berinisiatif untuk membuat surat, karena ku pikir kalau lewat facebook atau sms akan kurang berkesan, aku pun mengantarkan surat itu ke kantor pos.

Aku menunggu balasan surat dari Rian, dan ternyata sampai sekarang tidak ada jawaban sama sekali. Setelah lama menunggu akhirnya Rian menelpon, “Assalamualaikum..Enjang, ini dengan mamahnya Rian”. Kata mamanya Rian di telepon.

“Waalaikum salam... oh iya bu..” jawabku.

“Surat dari Enjang alhamdulillah sudah sampai, ada ini, tapi...” Kata mama Rian 

Akupun sangat penasaran dan berkata, “tapi kenapa bu ?”

Mamanya Rian menjawab dengan sedih, “Rian sudah meninggal Enjang...Rian meninggal karena kecelakaan sepulang dari pesantren”.

Aku sangat terkejut dan berkata, “Inalilllahi wa inna illaihi roo ji’un..Rian meninggal bu ?

Tiba-tiba teleponnya terputus, mungkin pulsanya habis. Aku pun sangat sedih dan merasa sangat kehilangan teman sejatiku. Aku berkata dalam hati, “mudah-mudahan amal ibadah Rian diterima Allah SWT. Dan ditempatkan di tempat mulia di syurga roudhotummin riyadhil jannah..amiin..”. Dan tiba-tiba ada bayangan Rian di hadapanku, dia pun tersenyum dan langsung menghilang.

Share:
DONI HENDIANA

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH