Cerpen / RINDUKU PADA AYAH

Namaku Indah, terlahir dari seorang wanita hebat yang bernama Nina yang berjuang sendiri untuk menghidupi putrinya dimulai dari terbit hingga terbenamnya bola raksasa yang membuat terang dunia ini. Bekerja keras seorang diri demi kebahagiaan sang putri, dan aku adalah anak satu-satunya yang masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan.

Rembulan tampak menghilang ditelan langit matahari pun muncul memancarkan sinarnya, suara kicauan burung terdengar merdu ditelinga membuat semangat dalam menjalani hidup ini.

“Bangun nak sudah pagi, saatnya kamu bersiap-siap untuk sekolah!” kata ibu yang mencoba membangunkanku

“Iya bu, indah sudah bangun kok, indah sedang membereskan tempat tidur dulu agar tidak berantakan” jawabku kepada ibu

“Baguslah nak jika kamu sudah bangun, setelah selesai membereskan tempat tidur lanjut sholat subuh lalu mandi ya?” kata ibu memberitahuku

“Iya siap Ibuku yang cantik” jawabku kepada ibu

Setelah aku selesai membereskan kamar tidur, mandi, dan sarapan pagi aku bergegas sekolah dan tidak lupa aku berpamitan kepada ibu.

“Bu, Indah berangkat sekolah dulu ya? Ibu jaga diri baik-baik dirumah jangan sampai telat makan aku gak mau lihat ibu sakit” ucapanku kepada ibu sebelum berangkat sekolah

“Iya sayang ibu gak bakalan lupa, hati-hati dijalannya ya” jawab ibu

“Iya ibu, Assalamualaikum”

“Wa’alaikum salam”

Sesampainya disekolah aku disambut baik oleh teman-teman dengan memberi gurauan dan senyuman manis dipagi hari yang itu semua membuatku menjadi semangat dalam melakukan aktivitas.

“Selamat pagi Ndah?” Sapa Rani kepadaku

“Pagi kembali Rani” jawabku pada Rani

“Hari ini kamu berangkat ke sekolah dengan siapa?” Tanya Rani

“Hihi seperti biasanya aku berangkat sekolah sendiri, karena ibu sibuk membereskan rumah dan menyiapkan dagangannya” jawabku

“Oh iya iya deh kalo begitu” kata Rani

“Kalo kamu berangkat sekolah dengan siapa Ran?” tanyaku kepada Rani

“Hari ini aku diantar sekolah oleh ayah Ndah. Ya kebetulan ayahku saat ini sedang libur bekerja” jawab Rani

Saat Rani menyebut kata Ayah disana hatiku mulai merasa sedih dan mengingat ayahku yang sekarang entah dimana keberadaannya.

“Hmm andai aku sepertimu, ingin sekali diantar sekolah oleh ayah” ucapku kepada Rani

“Maafkan aku Ndah karena aku telah membuat kamu sedih dan membuatmu teringat akan ayahmu yang sekarang entah dimana” ucap Rani

“Hihi iya Rani kamu gak perlu minta maaf karena kamu gak salah, ini cuma akunya saja yang bawa perasaan”  jawabku kepada Rani

“Sudah sudah kamu jangan bersedih ini kan masih pagi, lagipula kamu masih punya ibu dan aku yang selalu menyayangimu” ucap Rani yang mencoba membuatku tersenyum kembali

“Iya Ran aku gak sedih kok, pastilah karena Ibu adalah satu-satunya malaikat dan wanita terhebatku, makasih ya Ran kamu udah mau menjadi sahabat baikku” jawabku kepada Rani

“Iya Ndah sama-sama” jawab Rani

Waktu belajarpun telah habis saatnya aku dan teman-teman untuk bergegas pulang ke rumah.

“Assalamualaikum bu”

“Wa’alaikum salam, eh anak ibu udah pulang” jawab ibu

“Iya bu, untuk kegiatan disekolah hari ini cukup membuatku lelah” ucapku kepada ibu

“Hm wajar nak semua itu merupakan perjuanganmu untuk mejadi orang yang sukses dan mencapai semua cita-cita keinginanmu” kata ibu

“Iya bu, bu boleh Indah bertanya?”

“Boleh nak, mau bertanya apa?” jawab ibu

“Indah mau bertanya saat ini ayah berada dimana? Apakah ayah ingat kepada Indah?” tanyaku kepada ibu

“Hm ibu kira Indah mau bertanya apa, soal itu ibu kurang tahu pastinya ayahmu merindukan anaknya” jawab ibu dengan ekspresi yang sedih

“Jika benar aya merindukanku mengapa ayah sampai saat ini tidak pernah memberi kabar kepadaku , mengapa ayah tidak menafkahi indah dan ibu, mengapa ayah tidak pernah pulang dan mencoba untuk bertemu dengan indah?” ucapku kepada Ibu sambil menangis

“Sabar ya nak mungkin ayahmu sedang sibuk hingga tidak ada waktu untuk memberi kabar dan  bertemu dengan kita” jawab ibu mencoba untuk menenangkanku

“Semua itu omong kosong itu hanya ucapan ibu saja yang mencoba membuatku agar tidak sedih dan tidak mengingat ayah, aku iri dengan teman-temanku yang sekolah diantar oleh ayah kemana-mana selalu bareng ayah dan ibuhnya, aku iri bu aku rindu semua itu” jawabku sedikit membentak

“Sabar Nak, mungkin ini semua sudah menjadi takdir kita, yang penting sekarang Indah masih ada ibu yang berjuang sendiri untuk menyekolahkan Indah, sekarang Indah buktikan saja kepada ayah bahwa Indah bisa hidup tanpanya, Indah bisa menjadi orang yang sukses tanpa bantuan darinya” ucap ibu kepadaku

“Iya bu indah terima takdir tuhan ini, indah akan membuktikan kepada ayah baha indah bisa menjadi orang yang sukses tanpa campur tangnnya, dan indah akan membahagiakan ibu.” jawabku kepada ibu

“Bagus nak itu baru malaikat kecil ibu yang sabar dan kuat”

“Maafkan Indah bu telah bertanya seperti itu kepada ibu sehingga membuat ibu sedih dan menangis”

“Iya nak tidak apa-apa ibu mengerti kok”

Disitu aku membuat ibu tersenyum agar ibu tidak merasa sedih dengan apa yang aku tanya dan ucapkan kepadanya. Padahal hati ini ingin sekali menangis menjerit sekencang mungkin.

Hari mulai gelap, kini rembulan muncul kembali memancarkan sinarnya. Diri ini merenung dan hati menangis seakan-akan berkata “Tuhan mengapa hidupku berbeda dengan orang lain, mengapa kau menakdirkanku hidup seperti ini hidup tanpa kasih sayang seorang ayah, aku merasa kasihan melihat ibuku yang berjuang seorang diri menjagaku, menghidupiku, dan selalu membuatku bahagia.” Dan mencoba memberi pesan kepada yang diatas “Tuhan jika kau sayang padaku tolong pertemukanlah aku dengan ayahku sekali saja, aku ingin memeluknya aku ingin bergurau bersamanya, ingin merasakan kasih sayangnya walaupun hanya sebentar. Tuhan bisikan padanya aku sangat merindukannya.”

Share:
DUDU ABDUL ROHMAN

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH