Cerpen / PENYESALAN YANG TERLAMBAT

Namaku Mila Nurmala, biasa di panggil Mimil. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, aku mempunyai adik laki-laki yang bernama Gilang Cahya Arrizqi, ia sekarang berusia 8 tahun. Aku hidup dari keluarga yang harmonis dulunya, tapi sekarang keluargaku telah hancur dan ayah serta ibuku berpisah. Aku memilih untuk hidup bersama ibu, adik dan nenekku.

            Aku sangat dimanja oleh ayahku sebelum mempunyai adik dan sebelum ayah dan ibuku berpisah. Aku sangat menyayangi ayah dan ibuku, karena mereka selalu menyayangiku dan memberi apa saja yang aku inginkan. Tapi setelah ayah dan ibuku berpisah, aku merasa sudah tidak ada yang menyayangiku lagi dan aku merasa hidup sendiri tanpa adanya kasih saying dari yang namanya orang tua.

            Semenjak ayah dan ibuku berpisah, aku memilih hidup bersama ibu, adik dan nenekku. Aku tidak ikut bersama ayah karena aku merasa jauh dengan ibu. Semenjak berpisah, aku jarang sekali bertemu dengan ayahku, paling sering dua minggu sekali. Ayah pergi dari rumah yang dulu kita tempati bersama-sama, dan ayah hidup bersama nenekku (ibu ayahku).

            Ayah dan ibuku berpisah sejak aku duduk di bangkuk kelas 2 SD. Dan waktu itu aku belum mengerti apa-apa tentang perceraian. Aku merasa selalu rishi pada saat ayah dan ibuku berantem. Dan pada saat aku mengetahui ayah dan ibuku ternyata berpisah, aku merasa sedih dan kacau. Sehingga, peringkatku dikelas menurun. Aku sangat menyesali kejadian waktu ayah dan ibuku berpisah, karena sekarang keluargaku hancur, keluarga kecilku berantakan. Aku sesekali selalu menjenguk ayah dan menemuinya dirumah nenek.

            Suatu hari, aku di marahi oleh ibuku karena suatu masalah, aku pergi dari rumah dan pergi ke tumah ayah. Aku menangis pada ayah, dan menceritakan alas an kenapa aku tiba-tiba dating kerumah ayah. Aku menagis dalam pelukan ayah sambil menceritakan kejadian yang membuat ibu ,marah padaku. Ayah selalu membuatku tenang disaat aku menangis, disaat aku dalam keadaan apapun, ayah selalu menyemangatiku dan selalu menasehatiku.

            Saat aku duduk di bangku kelas 6 SD, nenekku memberi tahukan padaku, bahwa ayah sedang sakit. Aku saat itu merasa tidak peduli, karena waktu itu aku sedang kesal pada ayahku, karena jarang menengokku dan adikku. Suatu ketika, aku dan ibuku menjenguk ayah ke rumah sakit karena ayah menderita penyakit tipus. Aku merasa menyesal, karena saat nenekku meberi tahu bahwa ayah sakit, aku tidak langsung menengoknya.

            Saat ayah sudah pulang dari rumah sakit, aku dan keluarga dari ibuku menjenguk ke rumah ayahku. Aku sangat sedih sekali melihat keadaan ayah saat itu. Kondisinya begitu menyedihkan, karena ayah kelihatan lebih kecil. Aku tidak bisa membohongi persaanku, saat melihatnya aku pun meneteskan air mata.

            Suatu hari, aku menginap di rumah ayah dan mengurus ayahku yang sedang sakit. Karena aku merupakan anak yang paling besar, jadi aku mempunyai tanggung jawab terhadap ayahku. Saat aku mengurusi ayah, aku selalu berdoa semoga ayah dapat kembali sehat seperti dulu dan bisa memberi semangat lagi padaku. Seminggu terakhir, aku mengurusi ayahku dan setelah seminggu itu, aku pulang kerumah ibuku.

            Saat aku akan berangkat sekolah, ada seorang tetangga yang memberi tahu padaku bahwa ayahku meninggal, saat itu aku merasa sangat terpukul sekali mendengar kejadian itu. Aku sangat menyesal, karena sebelum ayahku ,meninggal aku tidak menempati keinginan ayahku yaitu ingin tidur bersamaku.

            Saat aku mengunjungi rumah ayahku, aku melihat bahwa ayah sudah terbaring dan sudah tidak bernyawa lagi. Saat itu, aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Dan sekarang aku hidup bersama ibu, adik dan ayah baruku. Aku selalu berharap bahwa ayah selalu tenang dialam sana dan ditempatkan di sisi Alloh SWT.  

Share:
BAHARUDIN YUSUF BAIHAKI

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH