Cerpen / PENYESALAN TIADA ARTI

Disebuah kampung ada seorang kakek dan nenek tinggal disebuah gubuk sederhana, yaitu kakek Rojak dan nenek Biyah. Mereka mempunyai empat orang anak, keempat orang anaknya sudah menikah dan masing-masing dari mereka sudah memiliki rumah. Kehidupan kakek dan nenek itu sangat sederhana. Tapi sayangnya kehidupan kakek dan nenek itu tidak begitu bahagia. Bagaikan langit dan bumi mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Nenek yang sangat baik hati dan dermawan sedang kakek mempunyai sikap yang serakah dan pemarah.  Setiap hari kakek selalu memarahi nenek Biyah walaupun hanya karena masalah yang sangat kecil. Sungguh kasihan nenek Biyah ini, sepanjang hari ia harus mendengarkan ocehan dari kakek Rojak itu.

Setiap hari nenek Biyah harus menyusuri perkebunan dan pematang sawah  mencari rumput untuk makanan kambing peliharaan kakek Rojak. Jika nenek Biyah tidak mencari rumput kakek Rojak akan memarahinya. Nenek Biyah bagaikan budak di masa penjajahan Belanda. Kakek Rojak memperlakukan nenek Biyah seperti halnya budak padahal nenek Biyah adalah istrinya sendiri. Terkadang anak-anaknya sangat khawatir dengan perlakuan ayah mereka kepada ibunya, mereka kadang meminta agar ibunya bias tinggal bersama dengan mereka tetapi ayah mereka tidak mengijinkannya.

Suatu hari ketika matahari diatas ubun-ubun nenek Biyah dipaksa untuk mencari rumput di pematang sawah oleh si kakek.

“Cepat pergi cari rumput  ke pematang sawah untuk kambing-kambing itu!!” ujar kakek Rojak.

“Tapi sekarang sangat panas kek” jawab nenek Biyah.

“Jangan banyak omong!! Apa kamu tidak lihat kambing-kambing itu kelaparan?”

            Nenek Biyah pun tanpa banyak berbicara lagi langsung pergi ke pematang sawah. Ia tidak ingin mendengarkan kemarahan suaminya sehingga ia memilih mengalah dan pergi mencari rumput.

Ditengah terik matahari yang sangat menyengat nenek BIyah terus mengumpulkan rumput. Dan sampai akhirnya nenek biyah pingsan karena tidak tahan dengan sinar matahari yang sangat terik. Ia jatuh pingsan ditengah pematang sawah, untung saja ada para petani yang sedang mencangkul di sawah sehingga para petani itu dengan sigap langsung menolong nenek Biyah dan mengantarkan nenek Biyah ke rumahnya. Dan saat sesampainya di rumah nenek Biyah para petani kaget karena melihat kakek Rojak yang sedang tidur siang di rumah sedangkan istrinya harus mencari rumput di pematang sawah.

Kakek Rojak seperti tidak mempunyai rasa kasihan, meskipun nenek Biyah belum sembuh total dia tetap saja memerintahkan nenek Biyah sesuka hatinya. Sehingga nenek Biyah kembali jatuh sakit. Nenek Biyah sakit parah sampai berhari-hari bahkan hingga berminggu-minggu.

Selama nenek Biyah sakit , si kakek sering merenung di bawah pohon kelapa dekat kandang kambing yang ada di belakang rumahnya. Ia merenungkan pembicaraan dari warga sekitar rumahnya. Banyak warga yang membicarakan perlakuan kakek Rojak kepada nene Biyah, dan perlahan warga yang berada disekitar rumahnya mulai tidak suka kepada kakek Rojak.

 Setelah hampir dua minggu anak-anaknya baru mengetahui bahwa Nenek Biyah sedang sakit parah. Anak-anak nenek Biyah diberi oleh ketua RT. Karena keempat anak nenek Biyah merantau ke negeri orang, jadi sulit untuk menghubungi mereka.

Ketika anak-anak nenek Biyah sampai ke rumah nenek Biyah, mereka langsung menangis karena melihat kondisi ibu mereka sangat parah dan ayahnya  tidak mengurus ibunya denga benar.

“Apa sudah pernah dibawa ke dokter ke?” ujar anak sulungnya.

“Belum nak, kakek tidak punya uang untuk mengobati ibumu” jawab kakek. 

Anak sulungnya hanya menghirup nafas, dan langsung terdiam kesal mendengar jawaban dari si kakek.

“Kan setiap bulan kami selalu mengirim uang, lalu kemanakann uang itu kek?” ujar si bungsu.

“Uang yang setiap bulan kalian, kakek belikan kambing. Tapi karena nenek kalian sakit jadi tidak ada yang mencari rumput dan akhirnya kambingkambingnya mati”.

Keempat anak sangat kaget mendengar jbawaban dari si kakek.dan selama berjam-jam mereka berdebat.

Menjelang ajal menjemputnya nenek Biyah sempat berpesan kepada anak-anaknya, untuk tetap menjalankan solat lima waktu dan banyak bersedekah. Sungguh mulia nenek Biyah ini. Dan permintaan terakhir dari nenek Biyah adalah ia ingin melaksanakan sholat berjamaah dengan suaminya dan keempat anaknya.

Mereka pun menuruti keinginan nenek Biyah, nenek Biyah sholat dalam keadaan tidur karena kondisinya yang sudah sangat parah. Setelah berjamaah nenek biyah berdoa “Ya Alloh.. mudahkan rejeki anak-anakku dan sadarkanlah suamiku” setelah itu ia mengucapkan kalimat “Laailahaillallah” dan nenek Biyah pun menghembuskan nafas terakhirnya. Keempat anaknya mencoba mengikhlaskan kepergian ibunya, meskipun sangat berat bagi mereka untuk kehilangan seorang ibu.

Setelah meninggal nenek Biyah kakek Rojak mulai tersadar ia merasa sangat berdosa kepada nenek Biyah, diakhir waktu hidup istrinya ia tidak memberikan yang terbaik. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur, kakek Rojak hanya bias merasakan penyesalan yang sangat mendalam. Kini kakek Rojak hanya bisa mendoakan nenek Biyah agar ditempatkan disisi-Nya

 

Share:
RIZA IQBAL NURROHMAN

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH