Cerpen / PENANTIAN

Berawal dari sebuah keluarga yang sederhana, namun tidak sedikit kebahagiaan yang menyertai mereka. Sebut saja keluarga Bapak Saleh dan Ibu Minah. Mereka dikaruniai seorang putri yang sangat cantik yang di beri nama Aprilia.

Aprilia tumbuh dengan kasih sayang dan perhatian yang banyak dari orang tuanya, karena Aprilia merupakan anak tunggal. Tahun demi tahun mereka lewati dengan anak semata wayangnya, hingga tidak terasa Aprilia pun sudah menginjak kelas 6. Aprilia sangat gembira saat melewati pelulusan sekolahnya di SD Negeri 2 Bandung, ia selalu menjadi juara dalam hal apapun.

Aprilia melanjutkan sekolahnya di SMP N 1 Bandung, “Kriing, Kriing” bel pun berbunyi, itu berarti peringatan untuk semua siswa dan siswi baru harap memasuki ruangannya. Pembukaan penerimaan Siswa-Siswi Baru pun dimulai dari mengisi identitas masing-masing dalam sebuah kertas. Tidak sedikit Siswa-Siswi yang ingin berkenalan dengan Aprilia , karena sifatnya yang ramah kepada semua orang.

Kini, Aprilia menginjak ke kelas 2, ia ditemani teman yang menjadi sahabat dekatnya yaitu Mely dan Yuda. Mereka bagaikan bayangan bagi Aprilia, karena kemana pun Aprilia pergi, mereka berdua pasti ada. Tanpa Aprilia sadari kedekatan mereka bertiga mengubah perasaan Yuda pada Aprilia, namun Yuda tidak berani mengungkapkannya, karena Yuda tidak ingin merusak persahabatan yang telah mereka jalin selama satu tahun ini. Suatu hari Aprilia dan sahabatnya sedang dikantin, Aprilia merasa kurang sehat, namun ia memaksakan untuk masuk sekolah.

“kamu kenapa Pril?” tanya Mely, “Gak tahu nih dari semalam kepalaku tuh terasa pusing banget Mel” jawab Aprilia, Pril hidungmu berdarah tuh,” ujar Yuda. Gak papa, ini Cuma mimisan kok Yud,” jawab Aprilia, “Gak papa gimana wajahmu pucat begitu Pril,” ujar Yuda. Sebelum Aprilia menjawab pertanyaan Yuda, Aprilia sudah tergeletak pingsan, Yudha dan Mely pu sangat panik. Akhirnya mereka membawa Aprilia ke UKS.

“Bangun dong Pril bangun”, ucap Yuda dan Mely. 15 menit kemudian Wali kelas mereka datang yaitu Ibu Yasmin datang bersama Dokter Yulia. “Yud gimana keadaan Aprilia sekarang?”, tanya Ibu Yasmin. “belum ada reaksi apapun bu,” jawab yuda. “Ya sudah biar saya  periksa dulu”, ucap Dokter Yulia. Saat dokter memeriksa Aprilia dia terlihat terkejut dan karena penasaran dia mengulangi memeriksa Aprilia dan ternyata hasilnya sama. “Ada apa dok? Apa yang terjadi pada Aprilia?” Apakah dia baik-baik saja dok? Tanya Yudha pada Dokter Yulia. “kalian keluar dulu ya, ibu ingin bicara dulu dengan Ibu Yasmin!! Ucap Dokter Yulia. Yudha dan Mely pun keluar dari Uks itu.

“Bu, sebaiknya Ibu beritahu orang tua Aprilia, entah bagaimana bisa terjadi namun ini yang terjadi pada Aprilia, ia mengidap penyakit kanker otak stadium akhir”, ucap Dokter Yulia. “Haaahh,” sambil menutup mulutnya Ibu yasmin pun terkulai lemas dan meneteskan air mata.

20 menit berlalu Orang tua Aprilia pun datang. “Ibu, Bapak yang sabar yah Aprilia mengidap penyakit kanker stadium akhir, Ibu dan Bapak harus mensuport Aprilia agar tetap bersemangat untuk hidup,” ujar Dokter Yulia.

“Iya Bu, sebenarnya kami sudah mengetahui akan hal itu, namun kami selalu merahasiakannya dari Aprilia, karena kami takut Aprilia akan murung dan sedih,” jawab orang tuanya. “Alangkah baiknya Aprilia mengikuti terapi Bu, yah minimal mengurangi rasa sakit saja,” ucap Dokter Yulia. “Iya Bu, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak kami,” jawab Orang tua Aprilia.

Setelah 2 (dua) tahun menjalani terapi, kini kondisi Aprilia sedikit membaik. Aprilia, Yudha dan Mely pun lulus dari SMP dan mereka masuk ke SMA(Sekolah Menengah Atas) Bakti Kencana di Bandung. Mereka tetap bersama, begitu pun perasaan yang Yuda rasakan pada Aprilia masih terpendam dalam hatinya.

Hingga pada suatu saat dia baru mencoba untuk menyatakan perasaannya kepada Aprilia dan ternyata Aprilia pun memiliki perasaan yang sama pada Aprilia karena Yuda selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih pada Aprilia, Akhirnya mereka jadian.

5 bulan berlalu mereka tetap menjaga kesetiaan dan janji mereka bagaikan merpati yang sulit dipisahkan karena mereka saling percaya satu sama lain. Hingga pada suatu saat dimana Aprlia sedang bercermin di kamarnya, ia menyisir rambutnya ia terkejut saat melihat banyak rambut di lantai, darah pun keluar dari hidungnya, kepalanya terasa pusingdan Aprilia pun tergeletak pingsan. Kemudian orang tua Aprilia pun membawanya ke RS terdekat dan dokter menyatakan bahwa Aprilia kritis.

Yuda dan Mely pun turut datang ke RS, dan melihat Aprilia sedang istirahat. Baru saja Yuda akan mengenalkan Aprilia pada orang tuanya, namun dia sudah kembali pada sakitnya. Yuda dan Mely sangat terpukul dan merasa sedih melihat keadaan Aprilia.

“Yud, kamu gak boleh nangis, aku gak papa kok, aku baik-baik saja” ucap Arilia.

“Sudah, kamu jangan bicara dulu, pokoknya kamu harus sembuh”, jawab Yuda

2 hari berlalu  Aprilia dirawat di RS, namun tetap setia meemani Aprilia di sisinya.

Meskipun waktu itu Dokter mengatakan bahwa umur Aprilia tidak akan lama lagi tetapi dengan Do’a dan dukungan dari orang tua, sahabat dan pacarnya Aprilia pun berhasil sembuh dari penyakit kanker yang menimpanya. Setelah 2 (dua) minggu di rawat di RS dan rutin  menjalani terapi selama berbulan-bulan, akhirnya keadaan Aprilia pun membaik dan bisa menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan, keceriaan dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga, sahabat, teman-teman di sekolahnya terutama Yuda yang tak lain pacarnya, ia selalu setia menemani Aprilia saat sakit. Kebahagian. Yuda melihat Aprilia bisa sembuh itu sangat ia syukuri

Share:
FIKRI AINUL YAKIN

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH