Cerpen / Menanti kebahagian

Sedari dulu keluarga Rama hidup berkecukupan, Rama mempunyai tiga orang anak perempuan dalam pernikahannya bersama Masrum, anaknya bernama Okta, Della, dan Rani. Rama selama bertahun-tahun pergi mengadu nasib ke kota, ia bekerja sebagai seorang penjahit di sebuah konveksi celana jeans, penghasilannya yang kurang tak banyak membantu kehidupan keluarganya. Padahal di rumah anaknya Okta sedang sekolah, tentunya memerlukan biaya yang cukup besar. Istrinya Masrum berkeinginan mencari kerja di Kampung agar bisa menambah penghasilan, tapi suaminya Rama tidak mengizinkan karena ia takut anak-anaknya tidak terurus. Masrum tidak yakin bahwa suaminya akan bekerja lama, karena melihat kondisinya yang sering kali sakit membuat Masrum merasa cemas.

Selang beberapa bulan Rama pulang dari kota, ia sudah mulai lelah bekerja karena rasa sakitnya yang tidak bisa ia tahan, sudah beberapa tahun ia menahan sakitnya itu. Mungkin kini waktunya Rama beristirahat dari kerjanya. Semakin lama Rama hanya diam dirumah dan tidak bekerja, Masrum istrinya merasa geram melihat suaminya yang tidak bekerja, ia bingung harus dengan apa ia menghidupi keluarganya. Hari demi hari terus berganti dan keadaannya masih tetap sama, Padahal anaknya yang pertama Okta sudah mau lulus sekolah, tentulah Masrum memikirkan masa depan anaknya, ia ingin anak-anaknya melanjutkan sekolah dan meraih semua cita-cita mereka. Pada waktu itu Okta sedang bersemangat sekolah, ia murid yang pandai juga berprestasi, meski kondisi perekonomian keluarganya tidak stabil, Okta tidak menjadikan sebuah alasan untuknya semangat dalam belajar. Ia anak yang gigih dalam meraih apapun, keinginannya semua ingin ia dapatkan, kerja keras dan semangatnya memang patut kita hargai.

Kini tiba saatnya Okta lulus sekolah, ia sangat berkeinginan melanjutkan sekolah, ia mencoba berbicara kepada orangtuanya dengan hati yang sadar dan penuh semangat, tapi ayahnya Rama tidak memenuhi keinginannya, ia tidak mampu membiayai sekolah anaknya, Rama takut anaknya putus sekolah di tengah-tengah, karena biaya yang tinggi menjadikan Rama harus menolah permintaan anaknya Okta. Ibunya terus menasehati anaknya Okta yang sedang kecewa menerima semua keputusan orang tuanya, Okta merasakan sakit yang begitu dalam dan tidak tahan untuk meneteskan air mata. Semangat yang ia pertahankan harus rapuh karena keputusan ayahanya, semua impian yang ia inginkan kandas sudah.

Beberapa bulan telah terlewat, Okta masih tetap menyimpan rasa sakitnya itu, akhirnya Rama dan Masrum memutuskan dengan penuh pertimbangan menyuruh Okta pergi ke kota mencoba bekerja sebagi seorang pelayan toko dengan salah satu sodara Rama, ayah Okta berpikir, mungkin anaknya akan sedikit menghapus rasa sakit dan keinginannya untuk sekolah. Berangkatlah Okta pergi ke kota, hari demi hari ia lewati, banyak hal baru yang ia alami. Mungkin awalnya ia tidak betah di sana, dan ingin pulang tapi ibunya terus memberikan semangat dan motivasi yang tinggi agar anaknya bisa bertahan.

 Setengah tahun terlewat, Okta sudah mulai lupa untuk sekolah ia jadi suka bekerja, ia sudah merenungkan keinginannya untuk sekolah dan meredam semua itu. Ia sudah hampir melangkah untuk membuka usaha sendiri, ia hampir banyak mendapatkan ilmu berbisnis. Ia mendapatkan banyak teman yang mengajarinya berwirausaha. Pada waktu itu Okta berpikir untuk memberikan modal kepada ayahnya Rama untuk bisa berwirausaha, ia sangat bersemangat untuk membangkitkan senyum keluarganya. Namun sayang sekali ia mendapatkan kabar dari ibunya, bahwa ayahnya sakit berat, kali ini ayahnya mengalami sakit yang sangat hebat, semalaman ayahnya muntah sanak sodaranya berkumpul berdatangan ke rumah, berbagai cara mereka lakukan untuk menahan sedikit rasa sakitnya. Mereka sudah tidak sabar menanti pagi karena ingin segara membawa Rama ke Rumah sakit, berdo’a dan meminta pertolongan kepada Tuhan tidaklah Masrum lupakan, dua orang anaknya yang dirumah sangat sedih melihat semua itu.

Kini malam telah berganti pagi, mereka langsung membawa Rama ke Rumah Sakit Umum, kabarnya Rama akan menjalani operasi, anaknya Okta yang di kota akhirnya pulang dan sampai di Rumah Sakit, ia langsung melihat kondisi ayahnya, satu hari satu malam Rama di rawat. Okta dan keluarganya terus menemani Rama, Okta terus mengajak ayahnya berbincang sementara keluarga yang lain sedang menanti kapan operasinya akan di jalankan, mereka terus bertanya kepada Dokter, namun pihak Rumah sakit selalu mengulur-ulur waktu hingga larut malam. Kini tiba saatnya, Rama kejang dan tangannya terus bergoyang hingga kantung infus pecah beberapa kali, semuanya panik melihat semua itu tangis dan histeris terus ada. Pada akhirnya rama menghembuskan nafasnya seusai mengucap dua kalimah syahadat, dengan bibir yang tersenyum. Subhanallah yang mereka ucapkan ketika melihat semua itu, semuah pasien berdatangan dan ikut serta mengaji. Anaknya Okta tidak mampu menahan rasa sakitnya yang ia alami sampai ia menjambak rambut salah satu perawat. Memang benar-benar keadaan yang sulit diterima.

Satu tahun berlalu, mereka sekeluarga sudah merelakan kepergian Rama. Kini saatnya Okta kembali berwirausaha guna menjadi tulang punggung keluarganya, kini semua kebutuhan hidup keluarganya ia yang penuhi, bukan hal yang mudah seorang anak perempuan berjuang menjadi tulang punggung keluarga. Namun berkat kerja keras dan semangat yang tinggi disertai do’a yang tak pernah lupa, semuanya berubah menjadi lebih baik. Meskipun usianya yang masih remaja Okta tidak menjadikan itu semua sebagai alasan, ia tetap semangat. Karena ia ingin meraih semua keinginannya dan membahagiakan ibu dan adik-adiknya.

Kini usianya okta sudah cukup untuk menikah, ia memutuskan untuk menikah di umur 21 tahun., Satu tahun sudah pernikahannya, ia dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Meski ia sudah menikah ia tetap membiayai kebutuhan keluarganya, sampai melanjutkan adiknya sekolah. Sungguh anak yang patut dihargai, semua perjuangan hidupnya tidak akan pernah lepas dari hidupnya. Mandiri, kerja keras, semangat yang tinggi semua hal itu ia selalu terapkan kepada adik-adiknya. Agar kelak adik-adiknya bisa berjuang melawan nasib yang dihadapinya. Okta selalu bilang pada adiknya, semua akan terasa enak bila semua dicapai dari hasil kerja keras. Memang sudah seharusnya mereka bahagia dengan semua perjalanan hidupnya.

 

Share:
DEWI AISAH

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH