Cerpen / KETULUSAN SEORANG ANAK

Malam hari yang sunyi dengan bintang bertaburan di langit membuat dina merasakan apa yang dia rasakan selama ini dalam hidupnya. Dina merasa bahwa hidupnya ini terbelit dalam kebingungan dengan keadaan keluarganaya yang kekurangan, malam yang sunyi ini membuat dina merasa ketenangan dengan angina yang menghebus menusuk tulang. Dina tak mengerti apa yang harus dilakukan dalam hidupnya agar semua keluarganya dapat bahagia dengan umurku yang seharusnya baru duduk di kelas X dina berimajinasi dan menemukan ide bahwa dia akan melakukan wirausaha kecil-kecilan dengan berdagang kue. Dina pengen sekali ngebahagiain keluarganya meskipun ini jalan yang terbaik untuknya, dia ingin kedua adiknya mendapatkan kebutuhan yang cukup seperti orang lain.

Suatu pagi matahari dari ufuk timur dengan udara yang segar membuat dina bergegas untuk membeli bahan-bahan pembuatan kue itu ke pasar meskipun cin-cin pembelian alm.ayahnya dan dina jual untuk modal. Akhirnya dina berhasil membeli semua bahan-bahannya. Ibunya bertanya “dina abis Dari mana kok membawa kantung kresek ?”

“dina abis beli bahan-bahan untuk berjualan kue bu”

“dari mana kamu dapat uangnya ?” ibu bertanya dengan rasa bingung

“dari cin-cin pemberian alm.ayah dina jual bu” dina merasa canggung atas apa yang dia lakukan

“kenapa kamu lakukan itu nak, itukan satu-satunya pemberian dari alm.ayahmu” Ibu merasa kesal

“dina ingin berjualan bu, untuk dapat membahagiakan ibu dan adik dina”

“kamu memang sudah kelewatan berani-beraninya kamu menjual cincin pemberian dari ayahmu itu” ibu makin marah

“maafkan dina bu tapi ini…”

“sudahlah ibu cape dengerin kamu bicara terus, sana pergi cari uang” ibu dina mengusir dina

Akhirnya dina merasa berslah atas apa yang dia lakukan “tapi dina berbuat juga demi kebaikan” ucap dina dalam hati. Rumah panggung yang menjadi tempat tinggal dina dan keluarganya menjadi sebuah saksi bahwa atas yang iya lakukan itu demi kebaikan. Secangkir air putih yang berdiri di meja depan dina dengan menghadap jendela itu membuat dina bersyukur atas apa yang telah ibu berikan kepada dina, tak lama kemudian dina menatap langit yang senja itu dengan penuh makna.

“kakak lagi ngapain ?” adik dina menghampiri dina yang sedang menikmati langit itu

“mmm… kakak lagi liat burung de” dengan terkejut dina menjawab pertanyaan adiknya itu

“ah kakak bohong, kakak pasti memikirkan kelakuan mamah terhadap kakak ya?” adik dina merasa curiga kepada kakak yang sedang melamun atas kejadian tadi

“tidak de kaka tidak bohong” dina menjawab dengan ragu karena sebenarnya dina merasa sedih atas kelakuan ibu kepada dina

“yaudah kakak istirahat saja ya kak”

“iya de kakak akan istirahat”

“yaudah ita tinggal ya kak” adik dina meinggalkan dina dan kamarnya

 Malam hari telah tiba ini saat nya dina mengolah adonan kue untuk besok dia jual, tanpa sedikitpun ibu dina membantunya. Dina mengolah sendiri dengan kesunyian di malam hari, dia harus bisa berjualan dan membuktikan bahwa aku bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarganya, satu persatu adonan itu iya masak dengan penuh semangat untuk hari esok. Dina tidak peduli dengan keadannya yang sudah larut mala ini dina masih terus mencetak adonan dengan mata sudah luyu tapi dia tidak mau adonan ini gagal dia langsung memasaknya dan memberskan dapur yang kecil itu.

  Subuh telah tiba ayam pun berkokok membangunkan dina di halaman rumahnya, dina langsung bergegas untuk mengambil air wudhu sholat shubuh, dan ternyata adiknya dina sedang wudhu akhirnya dina dan adiknya sholat berjamaah tanpa ayah dan ibu. Dina berharap dalam do’a nya semoga alm.ayah bahagia di surge dan semoga dagangan dina pertama kali ini berjan dengan lancar, sedangkan adik dina berdo’a supaya ibunya dapat mengerti kepada dina dan tidak kasar lagi kepada dina, dina dan itanya pun bersalaman seuasai sholat subuh.

“ita ibu kemana kok tidak sholat bareng sama kita?” dina sangat perhatian sekali kepada ibunya

“ibu lagi tidur kak, tadi di ajak sholat sama ita pun ibu gak mau malah memilih untuk tidur lagi” ucap adik dina dengan merasa kecewa

“yahudah ita mandi dulu gih kan mau sekolah “ ucap dina kepada adik nya

“iya kak” jawab adik dina

Mereka bergegas meninggalkan tempat sholat nya. Suatu ketika dina menguruskan adiknya itu untuk pergi ke sekolah dengan sarapan goreng pisan yang dina buat. Dina dalam hatinya merasa sakit sekali “hanya ini yang dapat kaka kasih ke kamu ta berbeda dengan orang lain yang sarapan dengan roti, nasi goreng, dan susu. Tapi kakak janji suatu saat nanti kakak akan beliin kamu makanan yang enak ” ucap dina dalam hati sambil mengelus kepala adiknya itu

“kak ibu bangun tuh “ ucap ita kepada dina yang sedang memperhatikan ita sarapan.

“iya de kakak tau, yaudah kakak mau ngasih sarapan ini kepada ibu ya, pasti ibu lapar” dina menjawab sambil memisahkan pisang goreng buat ibunya

“iya kak” ita menjawab

Dina pun meninggalkan ita yang sedang makan dan menghampiri ibunya yang baru bangun dengan membawa goreng pisang hangat buatannya.

“assalamu’alikum bu?” dina menghampiri ibu

“ngapain kamu kesini?” jawab ibu

“dina mau ngasih sarapan buat ibu, ibu pasti lapar ya?” ucap dina sambil memberikan pisang goreng kepada ibunya.

“yaelah makan ini kamu kasih ke ibu? Gak enak tau ibu pengen roti dan susu mengerti !” ibu dina menolak pemberian dari dina dan membuang pisang goreng itu.

“astaghfirullah ibu kenapa membuang pisang goreng ini ?” ucap dina sambil membawa pisang goreng yang berserakan jauh ke bawah

“ibu ingin makan dengan roti, mengerti !” ibu dina membentak dina

“tapi bu..” dina menjawab dengan bingung

“tapi apa hah ?!” ucap ibu dina dengan suara yang lantang

“dina gak punya uang bu” dina menjawab dengan ketakutan

“cari dong uangnya kayak orang bodoh aja” ucap ibunya kepada dina

Tak lama kemudian adik dina yaitu ita menghampiri mereka berdua yang sedang bertengkar.

‘ibu kenapa ibu marahin kak dina?” tanya ita kepada ibu

“diam kamu anak kecil, gak usah ikut campur urusan orang tua” ibunya membentak kepada ita

Ita terdiam dan menangis…

“sudahlah de yu kita pergi jangan denger kata ibu yang tadi ke kamu ya de?” ucap dina sambil mengelus punggungnya.

Matahari yang bersinar itu menjemputku dan adik ku untuk segera meninggalkan rumah, adik pergi ke sekolah dan aku pun pergi untuk berdagang. Di tengah perjalanan dina menawarkan dagangannya kepada orang-orang setempat, dina merasa kecapean dan dina memilih untuk istirahat sebentar dengan kakinya yang lecet dan dina merasa haus. Tak lama kemudian dina melanjutkan dagangnya itu dina menawarkan kue nya di tengah keramaian dengan situasi yang berdesakan.

“mbak kue nya mbak..” ucap dina kepada orang yang sedang berjalan.

Sesudah itu dina berjalan mendekati keramaian dan ada salah seorang yang berlari begitu kencang dan akhirnya dagangan dina tumpah berserakan. Dina pun tetap sabar menghadapi cobaan yang menimpanya, kue pun jadi kotor berserakan dina hanya mengelus dada dengan tabah.

 Angin yang menemani perjalanan dina menuju rumah begitu menghembus dengan kencang sessampainya di rumah dina tak bisa bicara apapun atas apa yang terjadi. Ibu dina sudah siap siaga di depan pintu menanti kedatangan dina yang sedang mencari uang.

“mana uangmu ?” tanya ibu kepada dina

“emm.. gak.. gak ada bu “ jawab dina dengan rasa kecewa

“kenapa gak ada ? kan kamu sudah cari uang dari tadi masa gak dapet seperak pun”

“maaf bu tadi ada musibah menimpaku sehingga dagangan pun tumpah berserakan dan akhirnya kue itu di injak-injak oleh orang lain” jawab dina dengan ketakutan di marahi oleh ibu

“dasar anak bodoh, masa cari uang segitu pun gak becus !” ucap ibunya dengan suara yang keras

“maaf bu, bukan maksud dina untuk kecawain ibu” dina menjawab dengan sedih

“sudahlah pergilah kamu dari rumah ini jangan kembali lagi” ucap ibu dina dengan marah

Dina pun merasa sangat sakit hati atas ucapan ibunya yang mengusir dina dari rumah, akhirnya dina melakukan apa yang ibunya di inginkan. Dina pergi tanpa sepengetahuan adiknya karena dina sangat menyayangi adiknya, maka dia ingin adiknya tetap bersama ibunya di rumah, dina gak mau adiknya seperti dina yang hanya tukang dagang kue. Malam yang sunyi membuat dina merasa kedinginan atas perjalanan yang entah kemana dina tuju dina hanya berdo’a dan berharap semoga tuhan memberi keselamatan dan kesehatan terhadap dina dan keluarganya yang di rumah.  

Share:
AI SYIFA PARIDA

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH