Cerpen / KEHAUSAN

Hari-hari  telah dani jalani, hari-hari dimana dia harus merenungkan hidup, meratapi, memikirkan semua yang akan terjadi di suatu hari dia tidak tau harus sedih atou bahagia.

Hari-hari telah dani lalui dengan penuh semangat dani selalu belajar terus menerus tidak ada hentinya dia belajar karena takut nilainnya tidak 90 semua karena kalou tidak danil tidak akan dapatkan tanda tangan dari ayahnya.

Ayahnya tidak mau menandatangani rapotnya karena nilainnya hanya 3 yang bukan 90. Dani yang awalnya bahagia dan tidak sabar untuk menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan peringkat 1 di Kelasnnya kepada ayahnya dia berkata “pasti ayah akan senang dan bahagia setelah mendapatkan berita itu”.

Dia berjalan dengan penuh rasa bangga dan bahagia sambil lari-lari karenna saking tidak sabarnnya. Setelah sampainnya dia di Rumah dia menceritakan apa yang ia ingin sampaikan kepada ayahnnya bahwa ia mendapatkan peringkat pertama di kelasnnya tapi ayahnnya hanya tersenyum kecil dan berkata “Ayah tidak mau menandatangani rapot kamu karna rapot kamu nilainnya kecil-kecil, percuma kamu mendapatkan peringkat satu tapi nilai kamu hanya sedikit”. Ayahnnya melemparkan rapotnya dan pergi begitu saja.

            Betapa hancurnya hati dani ketika melihat respon dari ayahnya yang tidak menyenangkan itu. Dia bingung harus menandatangani ke siapa rapot itu karena ibunya sudah meninggal dan hanya dia anak satu-satunya Dia terus menangis dan meminta tolong untuk menandatangani rapotnnya kepada adik bapanya dani berkata”paman bolehkah saya meminta tanda tangan paman karena ayah saya tidak mau menandatangani rapot saya”. Pamannya berkata”tentu saja nak, ngomong-ngomong kamu dapatkan peringkat berapa di kelas kamu?”. Dani berkata”Saya dapat peringkat kesatu paman”. Sambil berbicara pelan dan sedih. Pamannya”wah ternyata kamu anak pintar yah, hebat sekali kamu. Kamu adalah kebanggaan paman”. Dani hanya bisa tersenyum kecil karena dia sadar dia hanya bisa menyenangkan pamannya bukan ayahnya.

            Waktu pun terus berlalu dan tidak ada hentinya dani Belajar terus menerus sampai iya pun berumur dewasa dan sudah duduk di bangku SMA. Dia tidak ada hentinya belajar terus menerus tidak ada waktu istirahat baginya karena dia belum pernah membahagiakan ayahnya selama ini. Semester demi semesterpun dia jalanin dan tidak pernah dia mendapatkan rengking 2 dia selalu mendapatkan rengking ke 1 dari SD sampai ia masuk ke SMK di satu ketika iya mendapatkan rapot yang sangat bagus semuannya rapotnnya rata-rata 90. Dia pun tersenyum puas atas kerja kerasnnya yang selama ini dia lalui, dia ingin ayahnya tau akan prestasinya itu dia berlari ke rumah dan melihat ayahnya yang terbaring lemas karna sakit yang di deritannya selama 2 tahun. Dani berkata kepada ayahnya”ayah saya dapatkan nilai yang diinginkan ayah, ayo sekarang ayah bangun tersenyumlah dan peluk anakmu ini ayah”. Ayahnya tersenyum dan memeluk dani dengan penuh rasa bangga”terimakasih nak kamu sudah memenuhi keinginan ayahmu ini, sini ayah akan tanda tangan rapotmu itu. Maafkan ayah nak yang selalu memaksa dirimu untuk mendapatkan nilai yang tidak pernah ayah syukuri tapi ingatlah nak ayah ingin anak ayah haus akan ilmu dan tidak pernah puas akan ilmu yang pernah kamu dapatkan”ayah dani langsung pisan setelah menandatangani rapot itu danipun menangis dan tidak berhenti memegang tangan ayahnya yang begitu kurus karena penyakit yang di menggorogotinya dan pamannya pun panik dan menelepon ambulan untuk membawa ayah dani ke rumah sakit.

            Di Rumah sakit Dani tidak berhenti menangis, Setelah menunggu 15 Menit lamanya dokter keluar dari ruang ICU dan Danipun langsung menghampirinya sambil berkata “Bagaimana dok keadaan ayah saya?” Dokterpun menjawab”Maafkan kami, kami telah berusaha menolong ayah anda tapi nyawanya sudah tidak tertolong lagi”. Dani berlari menghampiri ayahnya setelah mendengar kabar itu sambil menangis.

            Sudah 3 Tahun Dani ditinggalkan oleh ayahnya dan Danipun sekarang menjadi seorang Dosen di sebuah universitas yang terkenal di Bandung dan dia juga mendapatkan Beasiswa S2 di Eropa. Ketika itu Dani tidak hentinya memikirkan ayahnya dan baru sadar ayahnya berbuat seperti itu untuk masa depannya yang lebih baik agar dia tidak hentinya untuk tidak hausnya menuntut ilmu.

 

Share:
IKHWANUL MUSLIM

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH