Cerpen / KABAR BURUK DARI HUJAN

Langit kelam diguyur hujan lebat. Petir terus bersahut-sahutan seakan mengiringi keluh kesahku, tatapan ku masih tertuju tajam menembus jendela, mencoba mendobrak sang hujan. Seperti biasa, saat waktu sudah mulai menghitam tapi Lisa belum juga pulang. Sebagai orang tua tunggal, aku pasti mengkhawatirkannya. Belum lagi kisah beberapa tahun lalu yang menimpa istriku belum sepenuhnya hilang dari ingatanku.

“Ah gara-gara segerombolan laki-laki brengsek itu.” Bisikku dalam pelan.

Memang sudah menjadi rahasia umum, istriku meninggal dengan cara yang tidak wajar. Dia menjadi korban kekejian laki-laki hidung belang.

Tiba-tiba suara pintu membangunkanku dari lamunan, terlihat Lisa muncul dari balik pintu dengan pakaian yang basah kuyup. Ku tengok keluar, ada seorang pemuda usianya sekitar 22 tahun hendak memputar balikkan motornya, mungkin laki-laki itu yang mengantarkannya pulang.

Lisa seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan tubuhnya yang tinggi, wajar saja banyak laki-laki yang mau padanya. Memang sepeninggal ibunya, Lisa menjadi perempuan yang susah diatur, hampir setiap hari pun laki-laki yang mengantarkannya kerumah berbeda-beda. Bukan karena aku seorang ayah tak pernah menasihatinya, tapi mungkin karena terlalu berat beban psikis karena cemoohan orang dengan cap yang tidak baik terhadap almarhumah ibunya membuat dia menjadi anak yang Broken Home.

“ Kamu habis dari mana saja? Apa kamu tak memikirkan ayahmu khawatir menunggumu.” Bentak ku.

“Sudahlah pak, aku Cuma jalan-jalan sebentar saja.” Jawab Lisa sambil pergi menuju kamarnya.

Ah aku hanya bisa menghela nafas panjang, sudah beratus-ratus kali aku memarahinya tapi tak pernah dia dengar. Omonganku hanya dianggap angin lalu olehnya. Sebagai seorang ayah aku terlalu bosan untuk mengingatkannya.

Suatu malam, Lisa meminta izin kepadaku untuk pergi bersama teman laki-lakinya. Ku lihat laki-laki itu sudah duduk menunggu dihalaman rumah. Jeans hitam panjang dengan jaket kulit dan anting yang dipasang ditelinga sebelah kirinya memberi kesan yang tidak baik kepada laki-laki itu. Usianya sekitar 27 tahun.

Melihat hal itu, aku pun tidak mengizinkan Lisa pergi. Karena sifatnya yang keras kepala, Lisa tetap pergi walau aku sudah melarangnya dengan cukup keras. Aku tak bisa menahannya, bukan karena aku tak mampu, tapi karena apabila aku tetap mengekangnya, Lisa akan semakin berbuat nekad.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tapi Lisa belum juga pulang. Lagi-lagi hujan menurunkan kekhawatiran, pikirannku kembali melayang mengingat kejadian yang menimpa istriku. Hujan waktu itu merubah nasibku seketika.

“Ah kenapa harus hujan? Kenapa harus hujan lagi?” Gerutuku sambil membuka gorden jendela.

Semoga hujan tak membawa kabar buruk lagi, semoga hujan tak meminta air mata lagi. Ah ini terlalu menakutkan.

“Lisa… Lisa… ya ampun kamu dimana?”

Ku balikkan badan, ku tengok jarum jam sudah menunjukan pukul 10.30 tapi batang hidungnya belum juga terlihat.

Denting jam terdengar sangat mengerikan. Kringgg… kringggg… telepon rumahku berdering, aku segera mengangkatnya.

“ Hallo selamat malam, apakah benar ini dengan pak Beno?” Suara wanita dengan lembut mengawali percakapan.

“Iya benar” Jawabku dengan suara ragu-ragu.

“ Kami dari pihak Rumah Sakit pak ingin memberitahukan bahwa anak Bapak yang bernama Lisa sedang dirawat di Rumah Sakit akibat kecelakaan.”

Tubuhku seperti tersambar petir malam itu, petir tanpa suara membuktikan kekhawatiranku. Lagi-lagi hujan membawa kabar buruk, lagi-lagi hujan meminta air mata.

Praaaaaaaakkk ………..

Terdengar seperti suara barang pecah belah jatuh dari kamar Lisa membawa pikiranku kembali ke masa sekarang. Ah kenapa harus mengingat kejadian itu lagi, kejadian yang membuat anak semata wayangku cacat. Aku segera menghampiri kamarnya, terlihat Lisa menangis dengan tubuh terbujur kaku dilantai.

Aku segera menggapainya dan mengangkatnya kembali keatas kasur. Memang semenjak kejadian itu Lisa hanya bisa terbaring dikamarnya tanpa kedua kakinya yang harus diamputasi akibat kecelakaan waktu itu.

Hujan turun dengan lebat seakan menyaingi airmata Lisa yang tak kunjung reda, aku segera kedapur untuk membawakan air untuknya. Petir dan air hujan mencoba mengajakku untuk kembali mengingat masa-masa itu. Aku mencoba tak memperdulikannya.

Hujan seakan tak pernah menyuguhiku kabar gembira, tapi aku tak ingin membenci hujan. Hujan telah memberiku sejuta pelajaran berharga untuk hidup dan kehidupanku. Harapanku hanya satu, semoga tak ada lagi kabar buruk selanjutnya dari hujan. 

Share:
LALA KOMALA

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH