Cerpen / IMPIANKU JADI GURU

Aku seorang wanita berusia 22 tahun yang sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang bernama Indah. Aku hanya lulusan SMP yang tinggal di kampung (maklum namanya juga di kampung anak lulusan SMP ajah udah di nikahin). Aku menikah dengan seseorang yang bernama Rahman. Dia bekerja sebagai pedagang keliling yang menjajakan makanan-makanan ringan ke warung-warung. Pergi pagi pulang sore. Walaupun begitu, alhamdulilah penghasilannya mencukupi untuk menghidupi kami sekeluarga.

Sewaktu sekolah dulu aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru, tapi apalah daya ekonomi keluargaku rendah bapak ku hanya seorang buruh bangunan, lulus SMP aja udah alhamdulilah. Tapi setelah menikah alhamdulilah kehidupanku mulai membaik, sedikit demi sedikit ada kemajuan. Penghasilan suamiku cukup untuk menghidupiku sekeluarga.

Suatu saat aku berfikir kalau aku ada uang lebih aku ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang SMA dengan jalur non-formal. Aku pun menceritakan tentang itu kepada suamiku. “Aku ingin melanjutkan sekolah kembali, apakah kamu mengizinkan?” “Terserah kamu saja jika itu yang kamu inginkan, kenapa baru ngobrol sekarang gak dari dulu, asal kamu bisa bagi waktu aja buat keluarga terutama anak”. Jawab suamiku.

Singkat cerita aku pun sudah mendaftar di lembaga non-formal Paket C dengan jadwal tiga hari dalam seminggu, dengan waktu masuk mulai jam 13:00 sampai dengan pukul 16:00 WIB. Aku pergi bersekolah dengan seorang temanku yang bernama Yuni, kami sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Suatu hari sepulang dari sekolah aku mendapati anakku yang aku titipkan kepada ibuku, dia menangis rewel, mungkin karena sering ku tinggalkan pergi. Saat itu pula suamiku pulang dari kerja dia pun menegorku. Dia berkata “ ada apa dengan indah, kenapa dia nangis terus?”. Aku pun menjawab “mungkin karena sering ku tinggalkan jadi dia rewel”. Suamiku sedikit kesal karena Indah yang menangis terus terlebih lagi suamiku sedang merasakan perutnya yang lapar. Dia pun membuka tempat nasi, dan ternyata oh ternyata didalamnya kosong. Aku lupa karena tadi ketika pulang sekolah aku langsung mengurus indah yang rewel. Waw.... suamiku marah besar. “Maafkan, aku lupa menanak nasi”. Kata aku sambil tersenyum, berharap dia memaafkan. Karena suamiku orangnya pengertian dan penyabar jadi dia memaafkan dan  tidak marah lagi. Aku pun langsung membuatkannya mie instan.

Seperti biasa aku sekolah setiap hari kamis, jumat, dan sabtu. Suatu hari sepulang sekolah akau mengunjungi sebuah toko untuk membelikan jajanan untuk anakku. Aku pun lantas memasuki toko itu dan aku bertemu teman lama ku sewaktu SMP dulu, namanya Yanti. Yanti bertanya padaku “ eh kamu habis dari mana, habis ngajar yah? (mungkin karena aku memakai seragam jadi dia  mengira aku sebagai guru), Aku pun menjawab “enggak kok aku mah gak habis ngajar, malahan aku mah habis belajar”. Dia bilang ‘oh..  kamu sekolah lagi gitu? Terus anakmu sama siapa? Aku jawab “saya titipin sama ibu saya”.. terus kalau kamu udah lulus udah dapat ijazah kamu mau kerja apaan emangnya?” kata Yanti. Aku pun hanya jawab “ ah kalau nanti gimana nanti aja yang penting jalanin yang sekarang aja, mau jadi apa nanti gimana nanti aja terserah Allah aja yang ngatur”. Aku pun sudah beres belanja terus bayar dan pamit sama Yanti. “Yan sampai ketemu lagi yah aku duluan...”

Setibanya dirumah aku pun teringat dengan dengan ucapan Yanti tadi. Aku pun menghayal “iya yah kalau misalnya aku udah lulus terus mau jadi guru kan harus kuliah, sedangkan biaya untuk kuliah itu kan tidak murah, apakah suamiku bisa membiayai  aku kuliah?, sedangkan aku hanya mengandalkan penghasilan dari suami. “kataku dalam hati . Aku pun berfikir, ah gimana nanti aja SMA aja belum lulus, mungkin nanti ada rejekinya untuk kuliah. Semoga suamiku diberi kelancaran dalam pekerjaannya dan diberi kesehatan selalu.

Apa mungkin cita-citaku untuk menjadi seorang guru bisa terwujud? Ataukah hanya akan menjadi impianku semata?. Kembali ku bertanya dalam hati. Aku berdoa mudah-mudahan Allah memberiku yang terbaik. Hanya pada-Nya aku  berdoa, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Semoga guru bukan sekedar impian saja.











Share:
ARI ABRORI

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH