Cerpen / CINTA YANG TERLUPAKAN

Nela terbaring lemas dipangkuan ibunya, wajah pucat bagaikan bunga yang tak pernah menemukan air, tak ada sedikit pun lengkungan manis diwajahnya. Merenung itulah sahabatnya, sepi itulah kehidupannya, jauh dari bayangan yang selalu ia bayangkan, kehangatan dalam keluarga, canda tawa  seolah tak kunjung datang untuk dirinya.

            Sosok yang ia idamkan yang selalu ada disetiap ia butuhkan, sosok yang selalu melindunginya dari apapun itu, sosok yang selalu dibanggakan oleh teman-teman yang lain, sosok yang disebut AYAH, tapi justru tak kunjung datang di dalam hidupnya.

“Itu punyaku Dit!” ucap Nela sambil merebut kembali layangan.

“Ini punyaku, mana mungkin perempuan bermain layangan.” Timpal Adit

“Tapi layangan ini punyaku Dit, cepat kembalikan kalo tidak!” belum selesai Nela berbicara tapi Adit sudah memotongnya.

“Kalau tidak apa hah? Mau ngadu sama ayahmu?” Ucap Adit, Nela pun terdiam sambil menundukan kepala.

“Oh iyaa aku lupa, ayah kamu kan penjahat.” Ucap Adit

“Apa maksud kamu Dit?” Nela pun kaget

Tetapi saat Nela melihat Adit dia sudah tidak ada entah kemana dan meninggalkan layangan itu.

            Itulah kejadian sembilan tahun yang lalu yang selalu ia bayangkan dalam kesendiriannya. Nela selalu memaksa kepada ibunya agar dia bisa bertemu dengan ayahnya, tapi usaha itu sia-sia tak satupun kata yang ibu ucapkan tentang ayah, ibu selalu melamun setiap Nela menanyakan itu. Suatu hari ia pernah mencoba mencari tahu tentang ayahnya dengan melihat ke kamar ibu, tetapi disana tak ada satupun foto ayah dipajang, dan usahanya kembali sia-sia.

            Hingga pada akhirnya ia memaksa kepada neneknya untuk memberi tahu tentang ayahnya itu, tapi nenek sama kerasnya seperti ibu yang tak pernah memenuhi jawaban Nela.

“Bu, Nela pengen ketemu sama ayah bu?” ucap Nela

“Tidak boleh nak!” ucap ibu sambil membentak Nela

“Kenapa bu apa karena ayah meninggalkan kita? Lalu kenapa 9 tahun yang lalu Adit bicara bahwa ayah itu jahat? Apa benar bu?” ucap Nela sambil meneteskan air matanya

“Bukan itu nak. Maafkan ibu, ibu tak bisa memberitahumu, suatu saat kamu pasti akan tahu semuanya.” Jawab ibu

Nela pun menangis dipangkuan ibunya, ia tak mengerti mengapa ibunya melarang untuk bertemu ayahnya itu dan mengapa Adit menyebut ayah Nela jahat.

            14 Oktober itulah hari ulangtahunnya, tepatnya sekarang Nela berusia 17 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ibu dan neneknya selalu merayakan ulang tahun nya dengan membangunkan Nela tepat puku 00.00.

Keesokan harinya, ibunya mengajak Nela pergi ke suatu tempat, berbagai macam pertanyaan mulai bermunculan dalam otaknya, apakah ibu akan mempertemukan Nela dengan ayahnya atau dia akan memberi kado istimewa kepada Nela. Tiba-tiba mereka turun di depan Rumah Sakit Jiwa Kemayoran.

“Bu kita mau kemana sih?” ucap Nela

“Nanti juga kamu tahu nel.” Jawab ibu

            Tiba-tiba ibu membawa Nela ke sebuah ruangan yang begitu sunyi, tak ada canda tawa atau apapun itu, disana ada satu sosok laki-laki yang sedang memeluk boneka yang sudah lusuh.

“Bu itu siapa? Kenapa kita kesini?” Tanya Nela

“Itu orang yang selama ini kamu cari nak.” Jawab ibu

Tanpa disadari ia sudah tergeletak di lantai sambil meneteskan air matanya, ia memandang laki-laki itu, wajahnya sangat mirip dengan Nela. Bagai pinang dibelah dua, bedanya Nela perempuan sedangkan dia laki-laki. Ia tak percaya akan kenyataannya, laki-laki yang selama ini Nela cari yang ia kira benar-benar jahat telah meninggalkan Nela dan ibunya itu. Laki-laki yang ia sangka sudah menikah dengan wanita lain dan hidup bahagia. Justru menderita disebuah ruangan yang begitu beku dan dingin jauh dari keramaian. Rambut gondrong dan pakaian yang sudah tak layak. Tapi kenapa ayahnya memeluk sebuah boneka yang lusuh itu dan selalu dipeluknya.

“Itu kamu nel.” Nela kaget dengan perkataan ibu yang tanpa ia Tanya ibunya sudah menjawabnya. Nela pun menghampiri ayahnya lalu memeluknya.

            Tepatnya 17 tahun yang lalu Nela diculik dan orangtuanya mencari Nela keberbagai tempat, mulai dari kota sampai kampung-kampung tapi usaha itu sia-sia. Hingga saat ayahnya mendengar suara tangisan  dari sebuah gubuk, ayahnya curiga bahwa itu adalah Nela. Ayahnya memberanikan diri masuk ke gubuk itu dan ternyata benar itu suara tangisan Nela. Saat ayahnya ingin menyelamatkan Nela tiba-tiba penculik itu menodongkan pisau mengancam agar ayah dapat meninggalkan gubuk, tapi ayahnya melawan pisau itu hampir menusuk di dadanya tapi ayahnya berhasil menghindarinya tetapi ayahnya malah menusuk penculik itu hingga mati. Lalu ayahnya dipenjara tetapi karena begitu banyak beban yang ada, hingga ayahnya menjadi stres dan dimasukan kerumah sakit ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini selalu hadir kini semuanya sudah terjawab, ayahnya tidak jahat tapi orang-oranglah yang tak tahu bagaimana cerita yang sebenarnya.oip

Share:
ALINDA

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH