Cerpen / BERBALAS

Wangi itu, wangi yang selalu semerbak membelai hidungku, wangi yang selalu ku rindu dan kunanti, wangi yang tak pernah ku lupa, wangi yang selalu bisa ku cium berapapun jaraknya itu, wangi yang selalu bisa membuatku tenang dan nyaman saat aku menciumnya, tak lain dan tak bukan itu berasal dari dirimu.

Kau yang tak mungkin aku miliki, kau yang sejauh ini hanya sebatas angan-angan, suatu kemungkinan yang tidak akan terjadi, dan berharap padamu aku fikir akan sangat menyakitkan dan melelahkan, sesuatu yang sudah aku tahu akan menjadi sia-sia namun hatiku berkata lain dan bersikeras melakuakan hal yang aku itu. Aku benar-benar bodoh! Apakah ini yang dinamakan CINTA? Atau hanya kekaguman sesaat? Entahlah, namun inilah yang sedang aku rasakan saat ini.

Berdasarkan analisis dan sudut pandangku nggak ada salah nya juga sih kalau cewe naksir sama seorang cowo sekarang kan udah emansipasi wanita, tapi..........“Woy!! Ngelamun aja nih nggak ada kerjaan banget” seorang mengagetkanku dari belakang yang membuat semua lamunan, angan-angan, dan khayalan tingkat tinggiku yang indah menjadi buyar dalam seketika dan tak lain dan tak bukan dia adalah sahabat karibku, namanya........ eh enggak penting juga sih aku nyebutin nama dia, sudahlah siapapun namanya, dia adalah sahabat terbaiku tempat aku mencurahkan semua kekesalan, kebahagiaan, kesenangan, kesediahan, dan apapun yang aku sedang rasakan, bahkan hal tidak penting sekalipun dan nggak ada sangkut pautnya sama dia aku bisa ceritakan panjang lebar, dan bisa di bilang aku ini sahabat yang sangat buruk.

“Eh apaan sih ganggu aja” sahutku secara spontan. “Kamu itu kalau beli makanan ya dimakan bukan dipelototin aja, mubazir tau” jawab Nadia yang terlihat kesal.  Dan tanpa aku sadari ternyata ice cream yang aku beli sudah mencair karena aku terlalu asik dengan lamunanku. “Eh iya aku lupa Nad, yaudah nih buat kamu aja” aku menyodorkan ice cream yang aku beli dan sudah terlanjur mencair tersebut  ke Nadia. “Kamu ini sahabat macam apa sih, masa aku di kasih ice cream yang udah cair. Hello disini ada orang lagi ngomong disitu mau sampai kapan melototin ka Zaid dosa tau!” bentak Nadia yang terlihat semakin kesal karena aku tak menghiraukan keberadaanya.  “Hiih suudzon aja, lagian siapa juga yang ngeliatin kak Zaid yey so tau deh”. Aku berusaha membela diri, namun wajahku merah padam karena Nadia ternyata tau apa yang sedang aku lakukan yaitu menatap dan memeperhatikan kak Zaid.

Kak Zaid Nursyaban, dia adalah salah satu kakak kelas di sekolahku dia terkenal di kalangan kaum hawa dan banyak dikagumi kerana karisma, ketampanan, ahlaknya yang baik,  serta keaktifannya dalam organisasi di sekolah. Dan ya dialah yang selama ini menggangu dan terus berlalu lalang di pikiranku. Aku selalu ingin tahu apa yang sedang ia lakukan, apa yang sedang ia rasakan, aku selalu melihat sosial media miliknya dan nge-like apapun yang dia update di akun sosial medianya. Kalau istilah gaulnya sih nge-stalk dan kepo-in dia habis-habisan. Nadia telah sering memperingatkan ku untuk tidak terlalu berharap kepada kak Zaid karena berharap kepada manusia besar kemungkinan akan mendapatkan kekecewaan, maka dari itu berharap dan dekatilah yang menciptakan dan memiki hatinya yaitu tuhan kita semua Alloh S.W.T. itulah yang selalu Nadia katakan kepadaku. 

Aku menyadari bahwa aku anak baru di sekolah ini, penampilan ku tidaklah secantik supermodel, sikapku juga tak sehangat pancaran sinar mentari pagi, namun aku percaya bahwa tak ada rasa cinta yang salah dan kebetulan. Aku mulai patah semanagat ketika tahu bahwa kak Zaid telah memiliki seseorang di hatinya. Dan mulai saat itu aku perlahan melupakan rasa yang tersimpan di lubuk hatiku, aku tidak ingin tahu lagi hal apapun mengenai kak Zaid. Aku rasa sudah cukup aku menyimpan rasa kepada seseorang yang mungkin bahkan tidak mengenali dan menggap keberadaanku yang selalu memperhatikannya secara diam-diam.

Beberapa bulan telah berlalu, dan aku rasa sekarang kak Zaid tidak lagi berlalu-lalang di fikiranku, tidak ada lagi angan-angan tinggiku yang berharap kak Zaid dapat menjadi bagian hatiku, sekarang perasaanku sudah netral dan biasa saja kepada kak Zaid. “PING!!” nada BBMku tiba-tiba berbunyi saat setelah selesai kegiatan pembelajaran dan ketika aku lihat, JRENGJENG!! betapa terkejut dan senangnya hatiku ternyata itu dari kak Zaid. Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja dan aku fikir mungkin itu hanya keisengan dan kejailan teman-temannya kak Zaid. Namun tak dapat aku pungkiri dan tidak bisa aku sembunyikan rasa senangku.   

Aku tidak berani untuk memberi tahu hal ini kepada siapun, nanti malah aku di bilang ke-Gran. Termasuk kepada Nadia sekalipun. Aku membalas pesan dari kak Zaid dengan sangat berhati-hati 

“PING!!”

‘PONG!”

“Benar ini dengan Aliyah?”

“Iya benar kak, ada keperluan apa ya?”

“Engga ada apa-apa, hanya  test contact aja ko”

“Oh baiklah kak, aku fikir ada sesuatu hehe..”

Tuh kan benar itu hanya keisengan dan coba-coba saja lagian ngapain juga aku berharap lagi. Ketika sang mentari telah kembali ke peraduannya dan dinginya malam mulai datang beserta bulan dan bintang yang menemani. Kak Zaid menghubungiku lagi dan percakapan kami terus berlanjut hingga larut malam dan hanya terdengar kesunyian di sekitarku. Kami terus berkomunkasi di hari hari selanjutnya.

Setelah satu bulan berlalu aku baru menceritakan hal ini kepada Nadia, dia nampak tidak percaya akan apa yang aku ceritakan, Nadia terkekeuh dan terus berbicara kepadaku bahwa kak Zaid sudah memiliki kekasih. Namun aku berusaha menyakinkan Nadia aku percaya bahwa dia lelaki yang baik dan tidak mungkin akan mendekati wanita lain jika benar ia telah memiliki kekasih. Akhirnya Nadia mempercayaiku. Malam pun tiba, tidak seperti biasannya malam ini kak Zaid meminta maaf kepadaku.Entah apa sebabnya, ia meminta maaf bila selama  aku mengenalnya dia melakukan banyak kesalahan. Aku bingung dengan apa yang ia maksud. Beberapa menit berselang  akhirnya kak Zaid mengutarakan apa yang ia rasakan selama ini, ia mengutarakan isi hatinya kepadaku yang selama ini ia simpan. Dan tak ku sangaka gayung bersambut, apa yang selama ini hanya menjadi angan-angan saja bagiku malam ini menjadi kenyataan. Ternyata cintaku berbalas. 


Share:
DINI MAULIDAH

Peserta Didik PKBM AL-FATTAH